Coretan eRNIe

tinta telah kering pena telah berhenti menulis nasib telah digariskan... dan lembaran2 skenarion Illahi harus kita jalankan

Tuesday, March 21, 2006

Belek'en *

belek'en *

pulang kali ini begitu berat, maksudnya bawaanku berat banget bo', 2 bungkusan besar oleh-oleh untuk adek-adek dikampuang.
kali ini naik patas biar cepet, surabaya-solo 40 ribu.. bo aboo.. mahal kali seperti naik travel dulu pas sekolah ketika lebaran.

sampe dirumah pengennya disambut suka cita... eee tak tahunya si bontot tika sedang nangis di sudut kamar, sementara adek kedua Dwi sedang sibuk buat mie instans untuk si bontot yg lagi nangis.
"loh lapo ka ?"
huaaaa.. wadow.. kok nangisnya tambah kenceng nie anak.
"tika kenapa wie" tanyaku pada dwi.
"ga tau.. muntah2 ama sakit mata mbak"
ops.
pantesan badannya tambah kurus aja.
"belek'en ?" ulangku untuk meyakinkan.
"yup"
"kamu ngapain"
"buat mie.."
wadow..wadow.. udah badan si bontot kurus kering gitu, makannya mie doang, segera dwi kutitahkan untuk beli nasgor kesukaan si bontot.

pufh.. badan capek banget, habis melahap nasi goreng dan minum teh anget, dari sisa air untuk si bontot mimik obat aku langsung tidur dengan sukses... disamping si bontot pastinya.

"hiks..hiks..."
loh apa pula itu...
disamping tampak sibontot meringik dan mengucek-ucek matanya.
"weiii jangan di ucek2.. tambah sakittttt"
aku berkata sambil ngantuk berat, habis masih jam 1 juga

"sakit....soalnya..huaaa" wadow kok tambah nangis sih dikasih saran juga.
tiba-tiba.. huekk..huekkk.
wadow dia muntah2 juga... untung ada bapak.. hehehehhee segera bapak yg ngurusin tika
aku sih segera ke dapur biasa bikin teh lagi ama wedang kopi dengan kopi hitam pekat super murni :P

"jangan dipegang2 matanya, tambah merah nanti" Teriakan Bapak dari Kamar.
huaaaaaaaaaaaa
waw tangis bontot tambah kenceng.
"tuh ditetesin lagi obatnya..."
"ini tehnya datang" aku masuk kamar... wadow kenapa kacau gini kamar.
kasian juga si bontot, masak udah badannya panas, muntah2, eee tambah belek'en lagi. tapi huaa kenapa mataku ngantuk gini ya. sementara bapak masih dengan rayuan ke tika untuk mengisi perutnya dengan roti2 ama teh anget. aku udah melungker sukses di sofa ruang tamu.

"ihhhh... periiihhhh" tetep masih ngantuk aku ngucek2 mata. tika udah nangis di dekatku.
"lawong diucek2 terus"
omelku. ops kasian juga sakit2 diomelin.
"yo wis beli maem, pengen apa..pecel a.." hehehe bener ngga sih, orang sakit suruh maem pecel.
"hmmm moh... aku pengen bubur aja"
"bubur ayam dimana belinya" aku sambil mikir keras, di Ngawi dimana ya belinya, perasaan aku ga pernah jumpai pedagang bubur ayam.
"bubur sunsum.." jerit si bontot. ops lama di Surabaya jadi lupa kalo istilah di Ngawi bubur itu ya jenang itu. ops.

"wieee belikan tika bubur...ka wis ndang iam sana " iam sama dengan mandi pembaca.
"mbak aku kan lagi belek'en nanti tambah menjadi2 lagi kl dipakai iam"
ops bener juga.
"aku kan udah sibin" jerit tika lagi.
"yaaa.. yaaa... ok deh ..."

siangnya.waktu menunjuk pukul 11 hari sabtu.
"loh kok udah pulang wie" kataku heran, maklum tadi dia aku tanyain pulangnya dia bilang sore, habis ada ekskul sih. tapi ini kok ?
"mataku sakit... " katanya pelan. kulihat matanya emang bendul2 sih.
loh jangan2 di belek'en juga.
ampyunnnn.
"kamu belek'en " tak aral aku tanyakan juga.
"kayaknya..." katanya ragu.
ops. jadi ... !!! tapi yg ini murni belek'en tanpa muntah2.. lebih ringan, lagian dia kan udah kelas 3 SMP ga secengeng Tika.
akhirnya jadi deh 2 hari dirumah berkutat dengan anak2 belek'en.
buat teh anget, njerang air untuk kompres mata, juga untuk mandi tika..ops.
beliin bubur, pecel, mie ayam, bakso, es krim.
loh2.. sakit apa sakit mereka.
dan 2 hari alhamdulillah terlampaui dan aku musti balik ke sby. mereka masih sakit tapi dah agak mendingan. si tika masih tetap nangis2 meski ngga sedasyat pas aku baru datang. kasian juga dia pasti butuh tempat ngeluh.

ops.. tapi apa ini.. pas perjalanan ke sby kok mataku mendadak berat gini, kalo ngantuk sih ngga seberat ini. dan karena aku duduk didepan nemenin Osa nyetir jadi deh ga bisa tidur, lagian dibelakang ada Papa n Mamanya Osa. ops sungkan bo' kalo tidur sementara mereka ngajak ngobrol.
ya sudah. dibetah2 hin aja... toh obrolannya juga asyik. sampai dirumah kepalaku pusing bangett, kayak berat menyangganya, seandainya bisa dilepas dan ditaruh dimana gitu klklklk...langsung deh bobok dengan sukses.

senin pagi uthuk2. loh2 mataku kenapa nih, kok ga mau buka, lengket, kepala juga pusingnyaaa.
dan ingat2 pesan ibu dulu pas mataku lengket n liat ibu pas mata adek lengket diambilnya air ludahnya sendiri lalu dioles ke mata.
"ini obat ampuh .. alami dari yang maha kuasa" hehehe jorok sih tapi emang lumayan ga seperih tadi pas mau dibukanya.
dan ketika aku menatap kaca.
"hiyaaaaaaaaaaa mataku meraaahhhh banget dan bendhol2 "
yaaa belek'en deh.
tapi ops.
entahlah meski tahu adekku yg menulari(pastinya) tapi aku malah bersyukur karena aku ada disaat mereka butuh, dan itu lebih berarti dari segalanya meski aku tahu akibatnya bisa-bisa aku juga terkena belek'en... tapi aku merasa, aku akan lebihhhh dan sangaaatttt menyesal jika aku tidak mau bahkan menghindari mereka pas sakit itu sementara sekarang aku sehat walafiat. ya kadang menyayangi yang tulus butuh pengorbanan.
tnx tika, dwi.. kalian beri aku pelajaran yg sangat berharga.


ernie, surabaya-220306

*) kosakata bahasa jawa untuk sakit mata.

Monday, March 06, 2006

Guru itu

Aku mengenalnya kurang lebih 1 tahun lalu, sejak awal berinteraksi aku tahu dia tipe seorang pemimpin sejati, tegas namun lembut.
Setelah lama, mengenal pola pikirku menjadi terbentuk untuk selalu bergerak lebih cepat.
Ketika aku melangkah membawa tulisan, sebelumnya dia cerita
“dulu aku adalah redaktur majalah kampus dan banyak tulisan penggugah semangatku yang menjadi rujukan anak-anak. aku juga penggerak demontrasi mahasiswa(katanya sambil tertawa).. ”
Aku mengkeret untuk beberapa saat, jelas ini tidak main-main. Aku harus menunjukkan yang terbaik.
Tapi itu juga tak serta merta, untuk beberapa saat langkahku terhenti, aku takut, takut kalo ternyata apa yang aku upayakan tidak sesuai bayangannya, bahkan sangat jauh.. aku takut melangkah. Tapi dia tahu keresahan itu, dia selalu mendesak untuk menanyakan tulisan itu. Seolah itu pembelajaran yang terbaik untukku, karena aku tahu dia begitu lembut tapi tidak untuk mentarbiyah.
Akhirnya aku tunjukkan kemampuanku.
“hmmm Ernie banget.. ”
aku tersenyum, karena memang aku merasa betapa konyolnya karya tulisan yang aku sodorkan ini.
Dari situ aku terus dan terus belajar.
Setelah waktu berjalan.
“banyak yang komentar suka dengan model tampilan tulisanmu…”
aku seperti diawang-awang. Kata-kata penyemangat yang manis.
Sejalan dengan waktu aku tahu pujian itu tak selalu dari orang, terkadang dari dia sendiri cuman caranya sangat halus. Dia tidak ingin aku terlalu berterima kasih padanya, atas tarbiyah yang ada.

Itu terulang dan terulang hingga banyak pekerjaan yang seperti itu. Dia menekan untuk mentarbiyah untuk kemudian jika senyum sudah hadir dibibirnya untuk sebuah pekerjaanku berarti aku sudah siap dilepas.

Banyak yang tak terduga yang dia berikan untukku
“apa sih yang tidak” dia bilang seperti itu.

Hingga kemudian ketika aku seperti diangin-angin, aku sedikit meluapkan emosi untuk sebuah ketidak adilan, cerita sedikit mengalir terbuka. Dia marah mendengarnya. Dengan halusnya dia menyembunyikan fakta bahwa aku yg telah bercerita untuk menjaga nama baikku, tapi secara halus pula dia memberiku pelajaran berharga.

“jangan ada yang menelikung”
aku bertanya apa itu.
“hmm musuh dalam karung” dia menjabarkannya seperti itu.

Memang bukan untukku itu tertuju, namun aku menyadari bahwa mungkin ada caraku yang kurang bijak menyikapi semua itu.

“kenapa mata kamu tadi berkaca-kaca..” aku terkejut dengan teguran itu. Ternyata guruku itu tahu kalo aku begitu tersentak.
“tenanglah itu semua untuk memposisikan di titik keadilan…”
aku hanya tersenyum untuk semua itu.

Untuk itu aku belajar untuk memilah dan memilih kata-kata untuk semua hal yang ada. Hingga setiap yang ada aku hanya berdoa dan menyerahkan semuanya.
Ketika suatu masalah dia korek dari aku, aku tak pernah membeberkan lebih dari yang selama ini berpengaruh padaku, selain itu hanya “tidak tahu, mungkin pak ini atau mas itu lebih tahu masalah ini “
Dalam hati aku yakin meski ketika aku membeberkan semuanya akan cepat lancar selesai, namun aku tidak ingin menghakimi itu keluar dari mulutku, aku ingin beliau tahu aku memposisikan beliau bukan untuk tempat mengadu. Dan semua itu aku lakukan karena aku yakin beliau adil.
Benarlah apa yang aku perkirakan, dia berdiri digaris adil tanpa aku menceritakan apapun.

Tapi ada kejadian yang membuatku terkejut hingga aku menghindarinya untuk meluruskan semuanya.

Aku mengenalnya dalam tauzi-tauzi kecil yang selalu diselipkan diantara tugas-tugas yang ada. Pernah aku menangis untuk sebuah tauzi. Memang ta didepannya tapi aku tahu bahwa aku sudah berkaca-kaca ketika tauzi belum selesai.
Juga tauzi singkat tentang Tanya jawab kelurusan yang dana yang aku dapatkan, dan itulah obrolan yang membuatku terpompa untuk lebih amanah karena aku tahu dia aja melakukan tanpa mengharapkan apapun kenapa aku tidak bisa seperti beliu.

Ada kejadian yang semakin membuat aku yakin akan kepemimpinannya, ketika sebelumnya dia mengabulkan semua keinginanku kecuali satu, ketika aku mencoba mengopi makalah kajian.
“jangan… belum saatnya untuk kamu, nanti akan menjadi jelek hasilnya jika kamu telan mentah-mentah”
hal seperti inilah yang aku suka, kata
jangan untuk menunjukkan sebuah kelurusan
.

Mengenalnya lebih jauh semakin aku menemukan tipe ideal untuk sebuah contoh. Terima kasih guruku, meski ta secara kasat mata, semua tutur kata dan tauzimu mempunyai arti tersendiri untukku.

Sunday, March 05, 2006

Kurindukan

Kurindukan sosok yg keras demi untuk kebenaran
Yang lemah lembut untuk sebuah kasih
Yg mampu berdiri di depan untuk suatu langkah
Yg mampu berjalan di belakang untuk menopang

Kurindukan sosok
Yg menggenggam tanganku untuk menuju jalanNya
Yg melagukan dzikir indah untuk menyanjungNya
Yg membacakan Al-quran hingga hatiku bergetar
Yg membisikkan sebait demi sebait puisi untuk memujiNya
Yg bersama untuk membangun rumah di surga

Friday, March 03, 2006

Matahari yang terlahir dari Air Mata

Surabaya, 26 Februari 2006

“Alhamdulillah semua clear” kata itu berbisik di hatiku.
tu lilitt…
“Mbak bawa publikasi ngga’” suara di seberang memecahkan ketenanganku.
“emang kenapa ?”
tanyaku gaguk.
“rawan mbak, soalnya warga sensitif.. ada konflik dengan pemerintah juga”
ops. Ok pikirku.

segera percakapan ku akhiri untuk koordinasi dengan bapak penanggung jawab acara.
“Ok Er.. kalo gitu para wartawan dipending semuanya” keputusan akhir setelah aku panjang lebar menjelaskan.

itu H-2.
nafasku sedikit lega meski masih menyisakan sesak.
akhirnya persiapan aku lanjutkan
H-1
tilililittt..
pagi pukul 08.00 di tengah kantuk setelah ketiduran sehabis shalat subuh.
“Er, aku di kantor sekarang…gimana bisa berangkat sekarang ”
ops. bapak yang sedianya me launching.
“trus ada yang bisa dibantu pak ?”
“Loh bukannya kita mau launching pondok baca”
astagfirullah, beliau salah jadwal.
“Ya Allah, besok bapak… hari ahad.. bukan sabtu”
“Ahad, oo ana pikir Sabtu, wah kalo gitu ana ga bisa .. soalnya besok ana ada majlis yg saya sebagai pembicaranya.. ”
Jederrr !!!!
aku terguguk kembali.
“Ok deh Bapak, tidak apa2 insyallah bisa diatur…insyallah semua lancar”
“Tapi Er, kalo bisa diundur setelah dhuhur mungkin bisa”
aku termangu. kemarin kesepakatan ngambil pukul 09.30 aja sudah di protes ama panitia dari kopel ITS, ini malah setelah dhuhur. aku garuk2 kepala yg ga gatal
“insyallah, kalo nanti bisa dirubah jadwalnya saya kabari bapak…”
“ok, afwan ya…semoga lancar”

aku seperti limbung. semua deretan acara yang aku siapkan intinya kan peresmian itu, trus jika yang meresmikan ngga ada, apa jadinya acara nanti. tapi itu hanya sebentar untuk kemudian hatiku berteriak.
“AYOO bANGUN… KAMU PASTI BISA… BUKTIKAN KALO KAMU KUAT DAN MAMPU !!!”
langsung gerak cepat kumulai. mandi, shalat dhuha.. dan ke kantor.. setelah 1 jam penuh mencoba calling2 dan mencoba alternatif Pengurus yang mungkin bisa.. bapak A.. ke pacitan Bapak B sakit, Ibu C ga bisa dihubungi.. Astgafirullah
“Er.. tenang”.
otakku berputar cepat
“format acara musti dirubah.. harus dirubah untuk mengganti semuanya dan pasti akan sama lancarnya”
dan alhamdulillah akhirnya sampai pada kesepakatan.
peresmian di ganti dengan rangkaian hiburan meski tetap ada sambutan tapi lebih lunak tidak seformil acara sebelumnya. FLP sudah bisa di nego tapi belum ada keputusan fix, musik hadrah bersedia mengisi untuk meramaikan. Sipp .. alhamdulillah. Bismillah.
tilililittt..
“Mbak kapan kesini, kita mau diskusi.. ini anak kimia ada kesalah pahaman”
aku menengok jam di HP.12.30
aku capek, badan tiba-tiba panas… pusing kepala!!! bisik badanku pada diri.
“afwan, ane agak kurang enak badan.. bisa ngga kemari jam 16.00 atau kalo tidak diskusi jangan di keputih tapi di tengah2 antara ketintang dan keputih”
kupencet send. tilililittt
“afwan ga bisa mbak.. soalnya …” bla..bla..bla…
aku semakin limbung kembali.
“ok nanti kita calling lagi 1/4 jam mbak”
tilililit
“kita bisa mbak.. di ketintang aja..”
alhamdulillah.

H-1 pukul 15.30
tilililitt..
“Er aku ga bisa datang” aku terperanjat, salah satu panitia yang harus ada cuman 2 orang dan dia bilang ga bisa. segera kupencet angka untuk call dia. dan bla..bla..bla…
“ok deh .. aku ikut… ” aku lega akhirnya tanggung jawabnya sebagai panitia kembali datang. bayangkan jika tidak hanya aku sendiri panitia tetap.
aku segera berkemas untuk menepati janji.
“Mbak ada berita buruk”
kutatap wajah anak didepanku, namanya yudha anak kimia ITS semester 2 ketua panitia dari ITS.
aku yg semula sudah siap dengan segala resiko dan sudah banyak mengalami keterkejutan hanya hampa mendengar kata2nya, ya tanpa ekspresi.
“kita mohon acara untuk peresmian diundur setelah kita, rencananya acara kita sampai jam 13.00″
aku hanya tersenyum
“terus”
“ada berita buruk lagi mbak” .. aku kembali hanya mengangguk
“ya.. apa” masih tetap datar.
“tim hadrah ngga bisa hadir…soalnya ada tawaran manggung..”
“ok.. ada lagi..”
“ya ada mbak.. tenda belum bisa didirikan karena masyarakat masih belum se7″
“terus…”
“soal pertimbangan dana mbak..kita tidak bisa”
“ok .. terus…” semua aku tampung.
“sudah mbak.. gimana dengan dari sampeyan”
aku kembali tersenyum. tubuhku yang mulai berhawa sakit mulai berfikir dingin. Bismillah.
“bentar tunggu disini.”
segera aku telp. bapak yang sedianya meresmikan.
“jam brapa pak..” Alhamdulillah, mungkin Allah telah mengatur semuanya. dan bapak itu bersedia, meski nampak bahwa dia akan capek sekali bayangkan dia mengisi majlis mulai pagi setelahnya langsung ke acara kita.
“13.30.. ok sukron pak ..wassalam”
dan semuanya aku jelaskan secara tenang.. (baca.. tanpa ekspresi.. karena sudah habis kata dan tenaga)

H- 6 Jam.
“Dik.. insyallah FLP bisa…” mbak arida ketua FLP calling.
Alhamdulillah tapi.. ops.
“Mbak acara diundur siang, pukul 13.30.. afwan ga sempat ngabari kemarin”
“Ok kita pikir ulang ya..”
dan aku hanya mengangguk meski aku tau dia tidak akan melihat ekspresiku.

H-3 jam

“er.. aku tidak bisa datang” kembali panitia yang sebelumnya mau melepas tanggung jawab menghubungi.
astagfirullah.
sementara dia diamanahin untuk stand by di ketintang dan aku di keputih.. lalu kl tak ada dia apa mungkin tubuhku di belah. sementara rekan lain tidak mempunyai tanggung jawab untuk amanah ini.

“Ok.. cukup” hanya itu yang terucap!
dan tetes air mata kali ini benar2 menggenang.

“Er.. ada disaat ketika kamu dipuncak ketidakmampuan dan keputusasaan.. dan aku tahu kamu pasti kuat.. Ok .. semoga semua lancar ya..” Tiba-tiba semangatku terpompa ketika selintas ingat pesan dari seorang di YM.
dan
“AKU PASTI BISA!!!!”

H- 2 jam
aku segera mandi dan bernyanyi riang gembira. aku harap itu akan banyak membantu.
dan betul aku fresh setelahnya.
“Ok .. kita berangkat..chie.,. kamu naik mobil sama Osa dan aku naik sepeda motor.. dan nanti setelah persiapan disana aku akan balik dan jemput si Bapak yang akan meresmikan..Ok ..”
Echie hanya bengong
“Loh ayoo !!!”
“oo sekrang mbak”
masih dengan kebingungan dia siap2.

Keputih, 12.00 waktu Surabaya.

“Er.. gimana ?”
Bapak yang mau meresmikan.
“Bagaimana Pak, Jadi kemari.. nanti saya yang menjemput bapak.. bapak sama keluarga”
“tidak”
“baiklah nanti saya naik sepeda motor dan bapak mengikuti saya”
aku tahu beliau sangat menjaga, dan aku menghormati hal itu.

OK.. semua di cek.. persiapan..koordinasi… ok ..clear..sipp..
“Alhamdulillah hari cerah” desisku dalam hati.
“Er..biar nanti aku yg jemput si Bapak” tiba2 osa mengagetkanku.
“Tapi baliknya aku naik di mobil Bapak itu”
ok bisa diatur pikirku. Alhamdulillah itu berita bagus disaat yang tepat!

dan semuanya lancar. aku dan echie menikmati kampung itu.
semuanya serba minim, ketika kami akan sholat,ana-anak sang ketua kampung- menawariku wudhu dit4nya, karena air di dekat perpus asin.
“kl airmu tawar ya” tanyaku iseng.
“iya mbak, karena kan air ujan yang ditadahkan”
oo echi tampak bengong.
dan lebih bengong lagi pas masuk… ops … hanya bak besar diluar ruangan tepatnya di tepi sungai atau apa ya namanya tempat aliran air yang becek sekali.
kami hanya berpandangan.
“ayoo chie.. ini tidak apa2 kok.. hanya keruh aja”
echie tampak ragu untuk kemudian mengikuti.

Keputih,13.00 waktu Surabaya.

tilililittt, bapak yang mau meresmikan
“Bapak sudah sampai Telkom? ada Osa disana .. nanti Bapak sama Osa”
“belum aku sholat dulu baru kesana … Ertha nanti ikut mobilku aja.. kasian naik sepeda sendiri… mau ujan lagi”
aku terperanjat ujan ? aku tidak menyangka dan mengantisipasi hal itu.

dan benar saja ketika jam 13.30 Hujan lebat datang, sementara yang aku tau penduduk sudah ada di lokasi dan semuanya kacau balau berhamburan menyelamatkan diri.
“Awas ada yg kesetrum”
sekedar informasi, daerah t4 pendirian pondok baca di bawa SUTET.
segera musik dimatikan, karena takut aliran listrik semakin membahayakan.
dan hujan semakin deras.
semuanya semakin kacau. bahkan konsumsi semua basah. untung aku segera berhasil menyelamatkan sedikit dan segera membagikan ke adik2.
“Allah.. ” aku berdesis.
“Hasbunallah wa nikmal Wakil” aku tasbihkan berkali2.
“ya Allah.. aku tahu semua ini kehendakMu.. dan Engkau sangat mengerti bagaimana perjuangan untuk mewujudkan ini.. dan jika ini memang yang Engkau gariskan.. hamba iklash… ” hanya itu yg berkali-kali aku bisikkan dalam hati.
echie memandangku berkali-kali, aku tahu dia pasti bingung. panitia dari ITS berkali-kali datang.
“Bagaimana Mbak?”
juga masyarakat ..
“Ya.. hujan…”
tapi Alhamdulillah ibu-ibu undangan begitu maklum.
“ya namanya hujan.. mau diapain lagi.. toh hujan air..bawa manfaat kok.. bukan musibah.. ya Mbak …”
Alhamdulillah hatiku menjadi sedikit tenang. dan subhanallah hujan sedikit demi sedikit reda.
tapi ops, mendung masih menggantung, balon untuk peresmian satu persatu meletus, bahkan kertas dibawahnya yang bertuliskan “Selamat Atas Peremian Pondok Baca Matahari” - pun basah, tulisannya meleleh.
kursi-kursi basah.
“Mbak gimana nih, si Bapak sampai mana ?”
aku segera memencet Telp.
“sampai mana ..ops.. di ngagel .. ok deh” ops ngagel.. masih sangat jauh…
“Mbak… bisa ngga dimulai acaranya.. keburu ujan lagi”
“bentar mas.. sabar dulu… 1/2 jam lagi…”
waktu jeda itu ternyata ada hikmahnya, deretan kerjasama akhirnya mengalir seiring dengan percakapan antara kita dan ketua (komisaris) dari KOPEL juga ikatan alumni ITS.
rintik hujan kembali bernyanyi..semakin lama semakin keras.. dan akhirnya..
“BRESSS… ”
hujan deras lagi…
kali ini aku tak peduli bajuku basah atau apa, yang pasti semuanya harus lancar meskipun apapun yang terjadi. dan kali ini aku seperti mendapat power besar dari diriku sendiri.
“Ok ana, siap tampil puisinya.. farah lagunya jadi… trus adik.. puisinya gimana ? ok.. clear..balonnya masih adakah.. musiknya.. apa masih nyetrum ? ”
dan semuanya lancar.. juga senyum dari adik2 dan ibu2 yang hadirlah yang sangat mensuportku untk lebih kuat.
kembali dzikir terpanjat seiring gerak langkahku.
dan subhanallah hujan reda, ketika aku mendapat kabar bahwa si Bapak sudah dekat.
segera langkah cepat diambil. dan semua ditata ulang, persiapan dimantabkan. dan Alhamdulillah ending itu begitu indah.
meski baju basah, dan wajah serta penampilan berantakan tawa kami mengakiri semuanya, tawa echie yang ceria karena mendapat banyak kenalan, tawa osa yang lega, tawa priyo sang dokumenter.. tawa trampil juru potret, tawa panitia ITS-Danang,Cenul, Aini dll ..juga tawa ana dan adik2 kampung sampah.
jabat tangan serta peluk perpisahan begitu menorehkan sesuatu yang tak akan ternilai dengan harta.
Alhamdulillah, aku yakin Engkau tahu apa yang terbaik untuk kami Allah.
dan semua ini membawa hikmah teramat besar untukku. aku setingkat lebih kuat minimal.

Cinta...

pagi hari ada panggilan telp.
"Kebawah ya ..."
tugas sih ga jadi, tapi malah dapet tauzi.
"Ernie.. pernah dengar kisah Ali sama Umar bin Khatab tentang cinta.."
cinta.. ? aku melongo.
"di buku kisah-kisah menakjubkan"
kembali aku hanya menggeleng, emang ga tau sih.
"
ketika itu umar mengeluh pada Rasul
'Ya Rasul, selama ini saya bertemu Ali selalu dia tidak menyapa saya duluan, sayalah yang harus menyapanya..'
Kemudian Rasul menanyakannya ke Ali, dan Ali menjawab.
'Seorang yang memberi salam terlebih dahulu dialah yang akan mendapatkan rumah di surga, maka dari itu saya ingin Umarlah yang mendapatkannya'
"

Subhanallah cinta yang sejati, sekalin sindiran nih. karena aku ga pernah ngucapkan salam ketika bertemu beliau.
"Loh .. kok Bapak sih.." seringnya gitu deh.

Afwan.. insyallah cicilan untuk bangunan rumah di surga akan aku lunasi.
Jazakumullah Bapak.

Wednesday, February 22, 2006

Merendahlah

Merendahlah
engkau kan seperti bintang gemintang
berkilau di pandang orang
janganlah seperti asap
yang mengangkat diri tinggi di langit
padahal dirinya rendah hina

Rahmat Abdullah
in memory

Monday, February 20, 2006

Selamat jalan Bpk Purnama : Pesan yg tertinggal

surabaya, 21 Januari 2006

pernah aku goreskan disini sekelumit cerita sore dengan beliau.
sesosok yg aku takjub di pertemuan-pertemuan pertama, kata-katanya lugas dari cerita panjang lebar kesanku yg mendalam tentang sosok ini adalah "simpel".
semua bisa dibuat mudah.

mungkin memang simpel juga ada di setiap kepala kaumnya alias laki-laki namun ada yg beda dari pandangan hidup beliau, gambaran kalo begitu syaratnya akan pengalaman.

terakhir ketika aku bingung sekali menentukan pilihan aku ingat sosok itu, sosok yg syarat akan petuah. sebenarnya curhat ini ingin juga ke istrinya sesosok yg sudah aku anggap ibu sendiri itu. tapi akhirnya tetap aku putuskan untuk ke pak pur.
dan akhirnya sampailah di akhir keputusan tentang pilihan yg aku bingungkan, benar2 sesosok yg simpel.

aku ingat di kata-kata terakhir.
"insyallah tgl 25 aku ke sini kembali mbak erni.. ngantar sepeda ike..."

ya Bapak, memang manusia yg berencana tapi tetap Allah yang menentukan. berita itu aku dengar hari sabtu 18 Februari pukul 20.00 engkau dipanggil yang kuasa. Inalillahi wa inalillahi rajiun semoga amal perbuatanmu diterima oleh Allah SWT, dan ibu serta ike dan mas dian semoga diberi kekuatan, amien.

Thursday, February 16, 2006

Rumah baca " Matahariku "

Kali ini ada janji dengan LSM Kopel milik ITS. masih dalam rangka pendirian rumah baca. akhirnya nemu nama cantik "Matahariku" penggambaran tentang sosok anak-anak penerus bangsa yang akan menjadi matahari2 yang menyinari bumi.

janjian jam 1/2 10 ee datang jam 1/2 11 dasar masihhh aja suka ngaret. dengan berburu sama debu akhirnya masuk juga di keputih bekas tempat pembuangan akhir. Ampyuuunnn Surabaya masih aja banjir, kali ini aku terperangkap dalam kopi susu jalanan. sepeda mleot sana mleot sini akhirnya ... "wo..wo..wo.. sandalku ketinggalan" sepeda udah melaju sandalnya kejebur sungai.. ampyun deh.
tapi alhamdulillah aku takjub dengan gembiranya sambutan anak-anak. mereka riang, gembira bahkan wow subhanallah tempat rumah baca yang aku kira parah ternyata indah, meski sederhana tapi cantik ada gambar bunga kecil-kecil di depannya ada kolam, ops jangan dibayangin kolam yang jernih ya.. kolamnya tuh hasil dari bekas lubang sampah yang kena ujan tapi ga bau jadinya brrr seger.

dan betapa asyiknya sambil baca-baca. ideal.

alhamdulillah.